Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
cannonfarley2:   Followers: 0 ; Following: 0


Tata Cara Aqiqah Merujuk Agama Islam


Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang beserta penyembelihan ini. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada agaknya yang mengeluarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ditemui pada oknum si bocah ketika ia keluar atas rahim pokok, rambut berikut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk budak yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk balita laki-laki serta 1 termuda untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak balita tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan budak perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya di hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, jadi sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua sindiran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Lembut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi identitas dan menitahkan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak perkara 4, sesuatu. 264]

Keterangan: Hasan & Husain ialah cucu Rasulullah SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Laksmi, dia mengatakan: Rasulullah menitahkan: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Atas Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih dalam hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Hukum Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) serasi pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai per kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai substansi yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya buangan (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun sungguh bersifat wajib, karena ada sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban ialah: “Barangsiapa diantara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu laksana layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh di aqiqah itu hewan yang picak, kurus, patah rangka, dan perih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam fauna aqiqah itu cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami di masa jahiliyah apabila khilaf seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan melumangkan kepalanya beserta darah wedus itu. Jadi setelah Yang mahakuasa mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, menyikat (menggundul) kepala si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud juz 3, sesuatu. 107]

Daripada ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur rambut si bocah mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW bersabda, “Gantilah kebiasaan itu secara minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban dengan tartib Rumpun Balban bab 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah dari segi kesepakatan karet ulama merupakan hari ketujuh dari kelahiran. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang budak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak pun, maka di dalam hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) kepada dasar anjuran, maka takut-takut menyembelih di dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah semua. Karena kepercayaan ajaran Islam adalah memudahkan bukan merunyamkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan apabila tidak siap melaksanakannya saat hari ketujuh, maka siap dilaksanakan dalam hari di empat belas, dan apabila tidak dapat, maka di hari di dua persepuluhan satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah atas ayahnya daripada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga minggu masih gak mampu jadi kapan saja pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan di dua puluh satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari di tujuh.

Momongan yang meninggal dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun budak yang keluron dengan ukuran sudah berusia empat kamar di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada bapak si bayi. Namun bila seseorang yang belum di sembelihkan fauna aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, oleh karena itu dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal itu tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak bisa, dipastikan pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa lagi, maka di dalam hari ke-2 puluh mono. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Namun demikian, bahwa ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri di saat dewasa. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyangkal, “Menurutku, bila ia belum diaqiqahi saat kecil, oleh sebab itu lebih baik melakukannya seorang diri saat dewasa. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menilai demikian. Pendapat mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal adalah satu upaya baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sesuai perkataan Rumpun Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain wahid domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Debu Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kalian harus ingat bahwa Lembut dan Husain adalah budak kembar. Maka pada satu kelahiran itu disembelih 2 ekor wedus.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki serta 1 sudut untuk bani perempuan bertolak pada hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba dan dari anak perempuan satu termuda. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor kambing yang sepadan dan daripada anak dara satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang keturunan

1. Disunnatkan untuk memberi nama dan mencukur rambut (menggundul) pada hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir dalam hari Esa, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kibas sedang untuk anak perempuan 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan menurut orang tua si anak, namun demikian boleh pun dilakukan sama keluarga lainnya (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah ini hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Cantik Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di kondisi sudah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk bani dan tunggal ekor kambing untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah diberikan kepada tetangga dan miskin miskin pula bisa dikasih kepada orang non-muslim. Makin jika hal itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya serta dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi menjarah orang melarat, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada saat itu adalah orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga pula boleh memakan sebagiannya.

http://dapoeraqiqah.com/catering-aqiqah-bandung/ Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa memandang apakah nyali besar atau puan, sebagaimana hal di bawah ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia tahu bertanya menurut Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka bicara beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak cewek satu ekor kambing. Bukan menyusahkanmu indah kambing tersebut jantan atau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil lainnya yang mengisyaratkan adanya hewan selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 semenjak kelahiran bujang tersebut. [Lihat saksi dusta riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Akan halnya dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat dan tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang sohib-sohib dan moyang untuk menyantapnya, atau piawai juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putra Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya lantas mengundang orang-orang yang engkau lihat terampil diundang atas kalangan suku, tetangga, sohib2 seiman serta sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, dan hal sebagai dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi kalau ada hubungan antara maksud sebuah identitas dengan yang diberi seri. Hal ini ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang memberitahukan hal tersebut.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam hendaknya Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang mengindahkan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam seri berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna tersebut diambil darinya dan seakan-akan nama-nama ini diambil daripada makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui imbas nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang menurut Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku jawab: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Rumpun Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa sok keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang elok untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang elok yang menarik diberikan adalah nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Atas Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan fraksi:

Memberi Seri Bayi alias Anak Dengan Islami


Menyikat Rambut

Membabat rambut ialah anjuran Rasul yang benar baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru real pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menerangkan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Laksmi dan Husein lalu beliau menyedekahkan perak seberat serat tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan dengan rata; bukan boleh hanya mencukur sebagian kepala dan sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar agaknya sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan identitas Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk budak ini beserta kalimat Sang pencipta Yang Siap dari sekalian gangguan syaitan dan sindiran binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat buruk bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di sebuah situs mempunyai beberapa panduan diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Tuhan SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Dalam aqiqah berikut mengandung unsur perlindungan atas syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir tersebut, dan itu sesuai secara makna hadits, yang mempunyai: “Setiap bani itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih selamat dari huru-hara syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud per Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di dalam hari perkiraan. Sebagaimana Imam Ahmad menyebarkan: “Dia tergadai dari menganjurkan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mereguk syukur kepada karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menimbulkan rasa semarak dalam mengusahakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukmin yang hendak memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah mendindingi ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan sedang banyak sedang hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by cannonfarley2 (2017-02-06 20:48)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2017 - postbit.com